05. Dalam Ensikliknya, On Christian Education (Divini Illius Magistri), Paus Pius XI menandaskan bahwa,
“...tujuan utama dan langsung Pendidikan Kristiani ialah > bekerjasama dengan rahmat ilahi membina kaum muda sejati dan sempurna...mencakup keseluruhan hidup manusiasi: fisik, rohani, intelek, moral, individual dan sosial kekeluargaan,...dan tidak menguranginya, sebaliknya mengangkat, menyeimbangkan dan menyempurnakan subyek bina seturut teladan dan ajaran Tuhan kitaYesus Kristus.”
Para Salesian, mengikuti ajaran dan praktek Santo Yohanes Bosco, dengan fasih menerapkan metode preventif (kebalikan dari metode represif), yakni dalam semangat Cinta Kasih memberi kebebasan kepada semua subyek bina untuk bertumbuh-berkembang dalam semua aspek manusiawinya dan secara progresif-evolutif menempatkan subyek bina dalam tantangan yang direspon dengan tanggungjawab moral pribadi dan kelompok. Ketrampilan hidup dengan sendirinya mejadi sasaran yang tidak di-nomor-duakan, sementara pendewa-dewaan terhadap supremasi intelektual sadar maupun tidak sadar tetap dilakukan. Dalam era globalisasi, liberalisme dan perdagangan bebas...bangsa Indonesia kita ini sudah dan masih akan tetap terjebak menjadi insan konsumeristis, apabila ketrampilan hidup tidak segera dibenahi. Bangsa lain menjadi subyek produktif dan kita obyek konsumtif. Bukankah begitu?
Cilandak,
1 Oktober 2005, saat harga BBM melambung tinggi.
Sumber: BRIAN P.HALL, The Personal Discernment Inventory, (New York, Paulist Press, 1980), hal. 43-45.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar